Sistem Penilaian SNMPTN

17 07 2010

1. SISTEM PENILAIAN SNMPTN 2010

Sejak  awal tahun 2009 ; Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 memberlakukan sistem penilaian baru dalam menyeleksi peserta yang akan masuk berupa sistem persentil.

Pada aplikasinya, sistem penilaian ini sangat berbeda dari sistem penilaian pada SNMPTN tahun-tahun sebelumnya yang mengakumulasikan jumlah nilai dari mata pelajaran yang diujikan secara total atau biasa disebut dengan nilai mentah.

Dengan kata lain SNMPTN tahun ini [2010] akan memberlakukan sistem yang sama yaitu memberikan nilai per mata pelajaran yang diujikan secara terpisah.

Dari penilaian secara terpisah tersebut nantinya akan diberikan rangking dan peserta yang rangking rata-ratanya besar di semua mata pelajaran yang diujikan berpeluang besar lolos. Sedangkan dalam penilaian sebelum tahun 2009 peserta yang hanya mahir dalam salah satu mata pelajaran masih memiliki kemungkinan lolos tes masuk.

Untuk bisa lolos tes masuk, peserta harus bisa mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan karena semua hasil tes akan diperiksa dan dinilai secara terpisah.

Tujuan dari pemberlakukan sistem persentil adalah untuk menjaring para peserta SNMPTN yang memiliki kemampuan lebih komprehensif. Sebelumnya, banyak kasus peserta yang lolos dan diterima oleh satu jurusan di PTN justru tidak memiliki kemampuan yang mahir sesuai dengan jurusan yang dipilih.

Potensi Akademik

Seperti halnya SNMPTN 2009; SNPTN 2010 juga menambahkan satu materi tes yaitu Test Potensi Akademik (TPA) dengan bobot penilaian 30 persen dan 70 persen nilai Tes Potensi Bidang Studi Prediktif (TPBSP). Bentuk TPA sendiri adalah tes kemampuan berpikir secara logis. Tes tersebut  berbeda dari psikotes yang harus ditangangi khusus oleh psikolog.

Seperti yang dikutip dari website UNDIP tentang pelaksanan SNPTN tahun 2009 lalu; TPA bertujuan untuk menjaring peserta SNMPTN dengan menekankan panilaian pada tiga poin, yaitu kemampuan komunikasi, analisis, dan hitungan. TPA merupakan indikator panilaian intelegensia alamiah peserta, selain untuk menjaring siswa yang betul-betul memiliki kemampuan yang konprehensif.

Tes ini juga berguna sebagai indikator penilaian yang bebas dari kontaminasi bimbingan belajar sebab kebanyakan siswa yang lulus dan bisa mengerjakan soal tes hanya karena hapal rumus yang didapat saat bimbingan belajar saja bukan munrni kemampuan berpikir sendiri.

Selain itu, TPA juga bertujuan untuk menekan angka drop out (DO) sebab tes ini akan memberikan penialain dan menimbang cocok-tidaknya siswa yang bersangkutan diterima di jurusan yang ia pilih. Alasannya, banyak kasus siswa yang diterima masuk PTN tidak bisa menyelesaikan kuliahnya karena faktor ketidakcocokan dengan jurusan yang dipilih.

Persentase mahasiwa yang di DO adalah mahasiswa yang masuk lewat jalur SNMPTN setiap tahunnya cenderung tidak menurun. Berbeda dari mahasiswa yang lolos lewat jalur Ujian Saringan Masuk (USM) yang jumlahnya terus menurun meski persentasenya lebih besar.
Diadopsi dari : http://www.undip.ac.id [archive 2009], http://www.snmptn.ac.id

2.  Sistem Penilaian SNMPTN 2009

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, SNMPTN 2009 menggunakan sistem penilaian persentil per bidang studi sebelum dijumlahkan. Penilaian detilnya panitia SNMPTN tidak pernah terbuka, tetapi dari press release yang dilakukan panitia SNMPTN 2009, dapat di tafsirkan sebagai berikut:

Mata pelajaran yang diujikan SNMPTN 2009 terdiri atas: TPA (tes potensi akademik) dan Tes Bidang Studi Prediktif (TBSP) yang meliputi: matematika dasar, bahasa indonesia, bahasa inggris, matematika ipa, biologi, kimia, fisika. Setiap bidang studi ini nanti di nilai berdasarkan aturan betul kali 4 dan salah dikali -1. Setelah skor didapat, maka dilakukan pembobotan dimana TPA dikali 0,3 (atau sama dengan 30% sedang TBSP masing-masing dikali 0,1 (total 70%, karena ada 7 bidang studi).  Inilah yang saya sebut sebagai nilai mentah. Dari skor ini peserta mendapatkan rangking per bidangstudi di program studi yang dipilihnya.

Nilai mentah ini yang kemudian dipersentilkan menggunakan rumus 100 (1-rangking/jumlah peserta). Rangking dan jumlah peserta disini adalah rangking dan jumlah peserta yang memilih jurusan tertentu. Karena menggunakan persentil, maka hati-hati bagi yang nilainya minus atau nol. Dari nilai persentil perbidang studi ini dijumlahkan dan didapatkan nilai tertentu. Nilai tertentu yang didapatkan perbidang studi inilah nanti dijumlahkan dan dirangking kemudian dipotong sesuai daya tampung jurusan tersebut.

Jadi sesuai uraian diatas, maka setiap siswa nantinya akan mendapatkan rangking jurusan yang dipilihnya. Artinya jika siswa X memilih 2 jurusan/program studi, maka akan mendapatkan 2 rangking. Kelihatannya rumit ya, tapi komputerisasi ya ngga masalah. Yang jelas, sistem penilaian apapun yang digunakan tetap saja menggunakan 2 hal, yakni:
– Rangking
– Daya tampung
Kesimpulannya: Jadi yang terbaik merupakan modal utama dalam sistem penilaian apapun..

3. Sistem Penilaian Snmptn Persentil Perlu Difahami Peserta SNMPTN 2009

Sistem penilaian presentil menghendaki peserta ujian mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009.Tindakan pengosongan satu mata pelajaran saja menyebabkan peserta tidak lolos seleksi.

Seperti diketahui, sistem persentil mulai diberlakukan dalam penilaian SNMPTN tahun ini. Pada tahun sebelumnya, dengan skor 4 jika jawaban benar, 0 jika tidak diisi, dan minus 1 jika salah, skor tersebut langsung dijumlahkan dan menjadi nilai akhir peserta SNMPTN. Ketika siswa tidak mengisi salah satu mata pelajaran dan mengisi mata pelajaran lain yang dia kuasai, nilainya tertutup oleh nilai mata pelajaran yang dikuasainya.

Bisa saja terjadi (dan mungkin sering terjadi) Anak Jurusan IPA di sekolahnya ngambil IPS di Snmptn dan tembus ke Akuntansi UI atau Fikom Unpad, karena bagus di Matematika sementara pelajaran Ekonominya jelek.

Dengan sistem penilaian sebelumnya pun, mata pelajaran yang terkesan sulit seperti fisika, raihan nilai siswa cenderung rendah. Penyebabnya bisa jadi siswa “kurang berminat” mengerjakannya. “Padahal setiap mata pelajaran itu sama pentingnya untuk diujikan.

Perlu diketahui para peserta Snmptn 2009, dengan sistem persentil ini setiap mata pelajaran akan mendapat porsi yang sama dalam penilaian. Pasalnya, skor yang diperoleh siswa tidak langsung dijumlahkan, tetapi diperingkat dahulu dengan penghitungan “persentil= 100 x (1-peringkat siswa/peserta)”. Artinya, lolosnya siswa tergantung dari jumlah skor setiap mata pelajaran, peringkat skornya secara nasional, dan jumlah peserta.

Peserta yang mendapatkan nilai tinggi di salah satu mata pelajaran, belum tentu lolos jika lemah di pelajaran lain. Intinya, mereka yang lolos adalah yang nilainya bagus di setiap mata uji. Ini juga akan mengurangi angka DO di PTN Snmptn.

Berbeda dengan sistem penilaian sebelumnya, sistem persentil menyebabkan para siswa tidak bisa menghitung peluang lolos mereka berdasarkan perhitungan skor. Karena dari rumus tadi kan siswa tidak tahu posisi kompetitor mereka sehingga tidak bisa mengetahui peringkat nilainya.

Menurut kami, sistem persentil pun mempunyai kelemahan meski tidak begitu besar. Kelemahannya yaitu dua siswa dengan selisih nilai yang tidak begitu besar, hasil skor yang telah diperingkat tidak akan berbeda.

Tapi kami berharap dengan perubahan Sistem ini, peserta tidak psimis karena bagaimana pun yang terpenting adalah penguasaan konsep dasar dan sering berlatih soal-soal yang punya kualitas dengan soal-soal Snmptn.

Perlu Anda perhatikan kembali bahwa : Dengan Sistem Penilaian Persentil itu sama artinya bahwa Semua Soal SNMPTN Harus Diisi (siswa harus mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009. Pasalnya, pengosongan satu mata pelajaran saja menyebabkan peserta tidak lolos seleksi.) Selamat Berjuang!. (Sumber snmptn.or.id)

4. Sistem Penilaian Persentil

Banda Aceh - Sistem penilaian SNMPTN 2010 sangat berbeda dengan ujian masuk PTN sebelumnya. SNPTN tahun ini telah menggunakan sistem persentil, Sistem yang diharapkan mampu memberikan input terbaik untuk jurusan yang menyediakan kursi untuk SNMPTN. Anda siswa yang ingin mengikuti SNMPTN tentu wajib membaca bagaimana sistem penilaian ini bekerja. Tentukan strategi anda ketika sudah mengetahui sistem penilaian persentil

  • Kamis, 8 Oktober 2009 .
  • Contoh Perhitungan TO dengan Sistem Persentil , (Author: Sony Sugema, MBA)
  • Misal ada 3 siswa Amir, Badu, Carli dengan nilai sbb:
Nama Pelajaran 1 Pelajaran 2 Pelajaran 3 Total
Amir 100 10 10 120
Badu 30 30 30 90
Carli 10 50 50 110

Menurut cara lama urutan kelulusan didasarkan skor total,
dalam hal ini 1.Amir(120) 2.Carli(110) 3.Badu(90) sehingga jika jumlah kursi 2 maka yang akan lulus adalah Amir dan Carli.

Menurut perhitungan sistem baru dengan sistem persentil, setiap pelajaran siswa akan diranking. dan diberi nilai 100*( 1 – (rangking/jumlahsiswa) )

Nama rank pel 1 nilai pel 1 rank pel 2 nilai pel 2 rank pel 3 nilai pel 3 Total Skor
Amir 1 100*(1- 1/3)= 67 3 100*(1- 3/3)= 0 3 100*(1- 3/3)= 0 67
Badu 2 100*(1- 2/3)= 33 2 100*(1- 2/3)= 33 2 100*(1- 2/3)= 33 99
Carli 3 100*(1- 3/3)= 0 1 100*(1- 1/3)= 67 1 100*(1- 1/3)= 67 134

Dengan sistem persentil ternyata urutan terbaik adalah 1.Carli (134) 2.Badu(99) 3.Amir (67) jika jumlah kursi 2 maka yang akan lulus adalah Carli dan Badu.

Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa siswa tidak boleh meremehkan satu mata pelajaranpun, semua harus dikuasai dengan baik.

Aplikasi sistem penilaian SNMPTN tahun 2009 dan 2010 sangat berbeda dengan sistem penilaian tahun-tahun sebelumnya, yaitu mengakumulasikan jumlah nilai dari mata pelajaran yang diujikan secara total atau biasa disebut dengan nilai mentah.
SNMPTN 2009 dan Snmptn 2010 memberikan nilai per mata pelajaran yang diujikan secara terpisah.

Pada penilaian SNMPTN sebelumnya, peserta yang hanya mahir dalam salah satu mata pelajaran masih memiliki kemungkinan lolos tes masuk. Untuk bisa lolos Snmptn 2010 masing-masing peserta harus bisa mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan, karena semua hasil tes akan diperiksa dan dinilai secara terpisah.

Berdasarkan penilaian secara terpisah itu, hasil tes akan diberikan rangking. Peserta dengan rangking rata-ratanya besar di semua mata pelajaran yang diujikan akan berpeluang besar lolos SNMPTN.

Tujuan Panitia memberlakukan sistem persentil itu adalah untuk menjaring para peserta SNMPTN yang memiliki kemampuan lebih komprehensif. Alasannya, banyak kasus yang telah terjadi sebelumnya, di mana peserta yang lolos dan diterima di sebuah jurusan di PTN ternyata tidak memiliki kemampuan yang mahir sesuai jurusan yang dipilihnya.

Selain dengan sistem penilaian tersebut, SNMPTN 2009 juga menambahkan satu materi tes lain yaitu Tes Potensi Akademik (TPA) dengan bobot penilaian 30 persen dan 70 persen nilai Test Bidang Studi Prediktif (TPBSP).

Materi Soal
Materi soal untuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 dimungkinkan dibuat berbeda dari materi soal tahun lalu.

Hal ini senada dengan yang diungkapkan Prof H Haris Supratno (Ketua Snmptn / Ketua Majelis Rektor PTN juga) yang mengatakan, materi soal yang bersifat prediktif tersebut nantinya akan menjadi acuan untuk bisa mengetahui potensi calon mahasiswa sesuai program studi pilihannya.

Haris menambahkan, materi soal SNMPTN kali ini tidak mengulang materi yang sudah diujikan pada Ujian Nasional (UN) SMA/Sederajat. Soal-soal dibuat di luar kurikulum SMA/Sederajat untuk bisa melihat kemampuan dan kelulusan siswa yang akan menimba ilmu di bangku kuliah sesuai program studi yang dipilih.

Pada penyelenggaraan SNMPTN tahun 2009 lalu, tambah Haris, tes yang dihadapi oleh calon mahasiswa adalah tes potensi akademik atau semacam tes psikologi, tes bidang studi dasar (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika), serta tes bidang studi IPA (Fisika, Kimia, dan Biologi) atau IPS (Ekonomi, Sosiologi, Sejarah, dan Geografi).

Menurut Haris, hasil tes SNMPTN tahun 2009/2010 diberi bobot yang berbeda. Untuk tes potensi akademik bobotnya 30 persen dan bidang studi 70 persen. Pembobotan itu dibedakan dengan program studi yang ada ujian praktiknya, seperti program studi olah raga dan seni.

Sementara itu, bobot untuk tes potensi akademik dan bidang studi ditetapkan 60 persen, sedangkan untuk bobot tes praktik ditetapkan sebesar 40 persen. “Dulu tes praktik cuma ditentukan lulus dan tidak lulus. Kebijakan seperti itu merugikan calon mahasiswa, karena itu mulai tahun ini ujian praktik diberi pembobotan,” kata Haris.(Sumber SSC: Cabang Aceh)

5. Proses Komputersasi SNMPTN

Seorang pengamat masalah Ujian Masuk Perguruan Tinggi ( sekarang bernama SNMPTN atau Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri setelah sebelumnya bernama SPMB atau Seleksi Peneriamaan Mahasiswa Baru) Ir. DM Djohan Yoga menulis tentang Proses Komputerisasi UMPTN di Surat Kabar Pikiran Rakyat beberapa tahun lalu.

PROSES KOMPUTERISASI

Selama ini, proses seleksi telah menjadi suatu misteri sehingga banyak orang  yang beranggapan bahwa lulus tidaknya seseorang dalam SNMPTN ditentukan oleh faktor nasib. Peserta  hanya membayar, mendaftar, mengikuti ujian dan akhirnya menerima hasil. Sebagian besar peserta tidak mengetahui proses apa yang akan dilakukan panitia SNMPTN terhadap Formulir Pendaftaran dan Lembar Jawaban yang telah mereka isi hingga pengumuman hasil SNMPTN. Hal ini diperparah oleh keterbatasan informasi mengenai SNMPTN sehingga banyak peserta yang tidak lulus sering menjadikan proses ini sebagai kambing hitam. Proses komputerisasi SNMPTN dibagi menjadi dua tahap, yaitu Proses Validasi Data Rayon di koordinator setiap rayon dan Proses Seleksi Nasional di kantor SNMPTN Pusat Salemba Jakarta.

Validasi Data Rayon

Seusai ujian, seluruh lembar jawaban dan formulir pendaftaran langsung dikirimkan ke Pusat Ilmu Komputer (Pusilkom) UI yang langsung melakukan proses scanning (Pemindaian), sementara untuk rayon B dan C dilakukan di UGM Yogyakarta dan ITS Surabaya. Selama proses ini berlangsung juga dilakukan proses validasi/pencocokan secara manual untuk memeriksa apakah data yang masuk komputer sama dengan data yang diisi oleh peserta.

Bila terjadi kesalahan maka akan diteliti apakah kesalahan disebabkan oleh peserta atau scanner (alat pemindai). Proses scanning akan diulang jika penyebabnya adalah scanner sehingga peserta tidak dirugikan. Tapi sebaliknya jika kesalahan berasal dari peserta ujian sendiri maka data akan dibiarkan apa adanya. Selain itu juga akan dilakukan Analisa Soal untuk mengetahui apakah ada soal yang salah atau soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit.

Setelah soal-soal itu dianulir, maka akan dilakukan penilaian yaitu Benar +4, Salah -1 dan kosong = 0. Nilai yang diperoleh disebut Nilai Mentah ( raw score ). Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri yang berasal dari rayon A, B dan C yang telah dilengkapi akan digabungkan menjadi satu di Pusat Ilmu Komputer UI, dan selanjutnya akan dihitung statistik dari masing-masing set yaitu Rataan (R) dan Simpangan Bakunya (SB). Selanjutnya Nilai Mentah (NM) dari masing-masing peserta dibakukan dengan persamaan NB = (NM-R)/SB.

Nilai Baku menunjukkan seberapa jauh nilai peserta dibandingkan peserta lainnya. NB ini selanjutnya di-transformasikan menjadi Nilai Nasional (NN) yang mempunyai rataan 500 dan simpangan baku 100 dengan rumus NN = 500 + ( 100 x NB). Berdasarkan nilai inilah peserta akan diurutkan mulai dari yang tertinggi hingga yang terendah.

Selanjutnya dilakukan Proses Alokasi yaitu penempatan peserta ke program studi, dengan ketentuan : peserta dengan nilai lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan terlebih dahulu. Program studi hanya menerima sejumlah mahasiswa baru sesuai dengan daya tampungnya. Walaupun masih banyak calon dengan nilai sangat baik, kalau daya tampung sudah penuh maka alokasi akan ditutup. Kasus ini sering terjadi pada program studi yang tergolong sangat favorit dengan peminat yang sangat banyak.

Sebaliknya, proses alokasi akan terus dilakukan  walaupun nilai dari peserta sudah sangat rendah. Kasus ini terjadi pada program studi yang kurang atau tidak favorit sehingga kurang diminati oleh peserta bahkan ada program yang daya tampungnya lebih besar dari jumlah peminat. Tidak ada nilai batas (Passing Grade) untuk menentukan diterima atau tidaknya peserta. Yang lebih menentukan adalah Daya Tampung dan Jumlah Peminat program studi yang bersangkutan.

Meskipun pada prinsipnya tidak ada nilai batas lulus ( passing grade), namun untuk mencegah ada peserta yang berspekulasi dengan hanya menjawab mata ujian yang dikuasainya dan mengabaikan mata ujian yang lain, maka ditetapkan suatu ketentuan yaitu bila ada peserta yang memiliki nilai mentah 2,5 untuk 2 mata ujian atau lebih maka yang bersangkutan tidak akan diikutsertakan dalam proses alokasi. Peserta ini otomatis tidak akan lulus dan nilai ini disebut NILAI MATI.

Tidak banyak pihak yang mengetahui adanya ketentuan ini termasuk para pengelola Bimbingan Belajar (kecuali BKB Nurul Fikri-red ). Namun informasi ini diperoleh langsung dari Prof. Dr. Toemin A. Masoem yang sejak tahun 1981 menjadi Ketua Tim Pengolah Data dan Pelaporan UMPTN Rayon A, B dan C melalui buku yang ditulisnya : “UMPTN atau Ebtanas, Mana yang lebih dapat diandalkan ?” (UI Press 1977) halaman 23, sehingga kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan.

Pengetahuan akan Nilai Mati ini setidaknya bisa mengungkapkan misteri kenapa banyak siswa yang tergolong pintar tidak lulus, sementara yang biasa-biasa saja dapat lulus SNMPTN. Siswa pintar biasanya cenderung berkonsentrasi pada mata ujian tertentu saja seperti Matematika, Fisika dan Kimia, dan biasanya mereka tidak terlalu memberi perhatian pada mata pelajaran yang bersifat hafalan seperti Biologi dan Bahasa Indonesia.

Dari hasil alokasi dibuat laporan awal yang selanjutnya akan dibawa dalam rapat rektor untuk diperikasa dan dikoreksi sesuai dengan kriteria dari masing-masing PTN.(NF Bandung)

Bagaimana, masih penasaran tentang sistem penilaian SNMPTN?………….

About these ads

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: