Mahasiswa Fikom Unpad Raih Prestasi di Asia Pacific Media Forum 2010

21 06 2010

aspac[Unpad.ac.id, 19/06] Aisha Amanda Vikardia dan Mutiara Pradnya Paramita, itulah nama kedua dara yang berhasil masuk dalam tiga tim terbaik di ajang Asia Pacific Media Forum 2010 di Bali beberapa waktu lalu. Keduanya merupakan mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.

Aisha, Mutiara, dan seorang moderator, dalam presentasi esai mereka yang berhasil menjadi tiga terbaik di Asia Pacific Media Forum 2010 (Foto: Hera Khaerani)

Semua berawal dari pemanfaatan jejaring sosial twitter. Di saat banyak orang menggunakan media tersebut sebatas untuk berkenalan atau mencurahkan perasaan di dunia maya, Aisha justru menggunakannya untuk mencari ilmu baru. Ia mendapatkan informasi tentang lomba esai di ajang Asia-Pasifik itu melalui jejaring sosial tersebut.

Hari Jumat (18/6) bertempat di Aula Moestopo Fikom Unpad Jatinangor, esai Aisha dan Mutiara kembali dipresentasikan. Dari sejumlah tema yang disediakan oleh panitia, keduanya sepakat memilih tema conventional media vs social media karena sesuai dengan konsentrasi di jurusan yang mereka dalami. Dengan judul “The Power of Media”, karya tulis mereka membandingkan kekuatan yang dimiliki antara media konvensional dengan media sosial internet seperti facebook, twitter, youtube, dan lain sebagainya.

“Kita tidak bisa menghindari penggunaan media,” tutur Aisha menjelaskan relevansi karya tulis mereka dengan kondisi yang terjadi saat ini. Dalam hal penggunaan internet saja kini mobile internet sudah semakin memasyarakat seiring semakin canggihnya teknologi telepon selular.

Di Indonesia sendiri, penggunaan mobile internet itu termasuk di antara yang tertinggi di dunia. Maka tak heran jika pengaruh media sosial yang memanfaatkan teknologi internet pun semakin tinggi. Dalam presentasinya, Mutiara menunjukan bahwa pencarian sumber informasi dan berita sudah bergeser dalam kurun waktu 200 tahun terakhir. Jika dulu orang lebih banyak memanfaatkan media konvensional seperti surat kabar, radio, dan televise, kini semakin banyak yang beralih ke media lain seperti search engine dan jejaring sosial internet.

Perubahan tersebut mungkin banyak dipengaruhi oleh pola hubungan yang ditawarkan media sosial tersebut berbeda dari yang ditawarkan media konvensional. Di saat pilihan dan kuasa atas isi pesan media konvensional masih ada di tangan media tersebut, pilihan dan kuasa justru diberikan pada pengguna di media sosial. Mereka bisa secara bebas memilih apa yang ingin dicari di antara jutaan sumber informasi yang tersedia.

Selain itu, sifat media sosial yang mengurangi interaksi personal yang langsung juga bisa jadi memenuhi kebutuhan orang-orang tertentu dengan lebih baik. Orang-orang pendiam adalah di antaranya. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya mampu keluar dari “cangkangnya” saat berinteraksi di dunia maya pada media sosial.

Kondisi ini harus disadari tidak hanya sebagai peluang melainkan juga tantangan. Berbagai persoalan masih muncul dari media digital. Selain sistem media online yang rumit, literasi media juga masih kurang untuk memastikan media-media tersebut dipergunakan masyarakat secara betanggung jawab.

Saat ditanyai tentang apa yang mungkin menyebabkan tim mereka dipilih sebagai tiga terbaik, Aisha dan Mutiara mengaku tidak tahu pasti. “Tapi berbeda dengan tim lain yang selalu menggunakan istilah consumer, kami menggunakan istilah audience,” ungkap Aisha mencoba menjelaskan kelebihan timnya dari yang lain. Pemahaman akan perbedaan kedua istilah tersebut sudah mereka dapatkan dari perkuliahan di kampus.

Sementara itu, Dr. Eni Maryani, Dra.M.Si., seorang dosen yang sempat mengajar kedua mahasiswi itu di Fikom mengaku tidak terkejut saat tahu tentang keberhasilan keduanya. Eni menjelaskan, “Mereka tekun, telaten, dan selalu ingin tahu. Kalau dilihat sepintas memang pendiam tapi setelah digali ternyata kemampuan analisisnya cukup baik dan mereka familiar dengan teknologi.”

Dosen yang satu itu menuturkan bahwa kini dosen perannya lebih pada memfasilisasi mahasiswa dengan perspektif dan pemahaman mendasar. Hal itu menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berpikir teoritis dan analitis. Menurut Eni, pencapaian kedua mahasiswanya itu menunjukan bahwa mereka tidak hanya menggunakan teknologi secara pasif, melainkan dengan kritis. “Jadi tidak jadi konsumen saja,” sebutnya.

Aisha sendiri menyatakan bahwa tetap merasa bodoh dan jangan cepat puas setelah dapat ilmu dari kampus adalah yang selama ini ia lakukan. Sementara Mutiara pun menambahkan, aktif dan selalu bergairah untuk mencapai lebih dari yang sudah ada itu penting. Pola pikir seperti ini mungkin baik untuk ditularkan kepada mahasiswa lainnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: