Para Mahasiswa yang Berlebaran di Negeri Orang

21 09 2010

[Unpad.ac.id, 17/09] Momen Lebaran merupakan saat dimana kita dapat berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi sambil menyantap berbagai hidangan khas di hari lebaran. Namun tidak semua mahasiswa dapat merasakan suasana lebaran yang biasa mereka rasakan di Indonesia. Sejumlah mahasiswa Unpad yang mengikuti program pertukaran di luar negeri misalnya, mengaku lebaran kali ini tidak lengkap karena selain jauh dari keluarga, mereka juga tidak ditemani sajian ketupat lebaran.

Salat Idul Fitri di Gunma University, Jepang

“Lebaran tahun ini memang kurang lengkap, karena disini nggak ada ketupat”, ungkap Yusshy Kurnia Heliani, mahasiswa Fakultas Keperawatan Unpad, ketika ditanya melalui pesan singkat di salah satu jejaring sosial, Jumat (10/09). Yusshy bersama rekannya, An nisa Rushtika Kersana, saat ini sedang mengikuti Program Student Career Development di Gunma University, Maebashi Japan.

Yusshy dan An nisa Rushtika yang belum genap sebulan berada di Negeri Sakura Jepang tersebut, mengaku ini adalah kali pertamanya harus merayakan Idul Fitri jauh dari keluarga.

“Kesan pertama lebaran jauh dari keluarga yang pasti sedih. Mulai dari malam takbiran, tidak ada suara takbir berkumandang. Awalnya kami sempat khawatir karena tidak bisa salat Ied di sini. Tapi ternyata di sini ada Islam Community. Walaupun bukan organisasi formal, tapi menjadi tempat berkumpulnya orang muslim di hari raya seperti ini,” cerita Yusshy.

An Nisa menambahkan, mereka masih bisa mengikuti salat Ied yang diadakan di International House of Gunma University. Acara yang di mulai dari jam 08.00 waktu Jepang tersebut dihadiri kurang lebih 30 orang mahasiswa muslim lainnya yang berasal dari Indonesia, Arab Saudi, dan Bangladesh.

Mengenai hidangan saat lebaran, Yusshy dan An Nisa mengaku senang karena setiap orang membawa masakan ciri khas negara masing-masing. Acara lebaran di negeri sakura tersebut diakhiri dengan makan bersama.

“Walaupun tidak ada ketupat, Alhamdulillah ada mahasiswa Indonesia yang buat opor ayam. Kami masih bisa merasakan masakan lebaran khas Indonesia,” kata Yusshy senang. Setelah acara berakhir mereka selanjutnya menjalani hari lebaran seperti hari biasa, tanpa ada kunjungan ke rumah-rumah atau pun acara sungkeman.

Bagaimana dengan mahasiswa Unpad yang saat ini sedang mengikuti  pertukaran mahasiswa “Ajou Fall Semester 2010”? Suasana berbeda nampak pada perayaan hari raya Idul Fitri mahasiswa Unpad yang saat ini berada di Korea Selatan. Mereka bersama-sama mengikuti salat Ied di Kedutaan Republik Indonesia (KBRI) di Seoul, Korea bersama mahasiswa Indonesia lainnya. Suasana kekeluargaan ditemani hidangan khas lebaran dirasakan Tami Mauliana Kartanegara, Rizki Maulana Rachman, dan sejumlah mahasiswa Indonesia lainnya pada lebaran kali ini.

Berbeda dengan rekan-rekan lainnya yang berada di Jepang dan Korea Selatan, Yangki Imade Suara, Mahasiswa FE Unpad yang saat ini sedang berada di Paman Sam Amerika Serikat ini mengaku lebarannya kali ini jauh dari suasana lebaran yang biasa ia rasakan di Indonesia.

“Lebaran disini tidak terasa apa-apa. Saya terpaksa makan dengan pizza karena memang tidak ada ketupat,” kata Yangki yang saat ini berkesempatan mendapatkan beasiswa di University of Massachusetts.

Yangki juga menyesalkan tidak dapat mengikuti Salat Ied karena saat itu sedang dalam perjalanan ke Boston. Padahal menurutnya, ketika itu lebih dari 500 orang muslim di Boston, mengikuti salat Ied di sebuah lapangan sepak bola.

Ketika ditanya mengenai toleransi kehidupan beragama di kota Amherst, Massachusetts tempatnya kini tinggal, Yangki mengatakan tidak banyak isu rasis serta agama mencuat ke permukaan. Toleransi beragama di sana menurutnya cukup tinggi.

“Di Amherst, kami biasa salat di Hampshire Mosque. Mesjid ini hanya terdiri dari dua ruangan kecil yang bisa memuat sekitar 80 orang,” kata Yangki.

Yangki menambahkan toleransi beragama di tempatnya tinggal cukup tinggi.  Tentang isu pembakaran Alquran misalnya, isu tersebut tidak terlalu terdengar. Yangki mengaku, mengetahui isu besar tersebut setelah membaca beritanya di koran.

“Sejauh ini toleransi antar partisipan dari negara lain juga sangat bagus. Ketika lebaran kemarin misalnya, banyak juga yang memberikan ucapan selamat kepada kami,” tutur Yangki yang juga mengatakan bahwa ada sebanyak 6 orang mahasiswa muslim di Amherst yang berasal dari Indonesia dan India.

Hal yang juga menarik, Yangki rasakan pada saat bulan ramadhan lalu. Rekan-rekan dari negara lain pun salut dan takjub karena ia dan rekan muslim lainnya bercerita bahwa puasa berarti tidak makan dan tidak minum sejak matahari terbit hingga terbenam dan selama sebulan penuh.

“Mereka langsung bilang I can’t do that“. Kemudian kita juga jelaskan bahwa kita sudah terbiasa dan di latih sejak kecil. Mereka akhirnya mengerti kenapa orang Muslim bisa melakukan puasa selama sebulan lamanya,” lengkap Yangki. (eh)*


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: