Empat Dosen Unpad Diberi Kepercayaan untuk Lakukan Preservasi Arsip Rahasia

1 10 2010

[Unpad.ac.id, 29/09] Jauh sebelum 1914 di saat perang dunia pertama terjadi, para pakar fisik antropologi di dunia, terutama Eropa, sudah meneliti perkembangan karakter fisik manusia. Hasil penelitian mereka dituliskan dalam dokumen-dokumen yang disimpan secara bergiliran di antara para antropolog. Dengan perjalanan panjang berkas tersebut, tentu saja nilai dokumen-dokumen sangat berharga. Hasil penelitian itu pun kini banyak dicari para antropolog di dunia untuk perkembangan keilmuan.

Wina Erwina Dra, MA (Foto: Hera Khaerani)

Maka, saat empat dosen dari Jurusan Informasi dan Ilmu Perpustakaan (Inpus) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran diundang untuk membuat perangkat lunak dan sistem pendigitalan dokumen rahasia tersebut, hal ini menjadi kado indah bagi jurusan yang merayakan usia ke-25 tahunnya itu. Keempat orang tersebut adalah Wina Erwina Dra, MA., Kusnandar S.sos.,Msi., Adriyanto S.sos., dan Herika Raidathami S.Sos., Msi. Kepercayaan universitas ternama di Eropa itu terhadap keempat orang ini menunjukkan pengakuan terhadap keahlian akademisi Unpad.

Kajian ilmu oleh bangsa Eropa tadi kerap dijadikan pembenaran atas superioritas ras Arya dibandingkan ras lainnya. Para antropolog menyadari bahwa bukan itulah tujuan adanya fisik antropologi. Sadar akan bahaya interpretasi semacam itu dan nilai historis penelitian yang mereka lakukan, para antropolog pun berusaha menyelamatkan semua dokumen dari ancaman perang dunia pertama.

Konflik militer yang tercatat sebagai salah satu perang paling destruktif dan kejam di Eropa ini berakhir pada November 1918. Kini hampir 92 tahun sejak masa itu, dokumen bersejarah itu masih terperlihara. Sebelum meninggal, seorang antropolog mewasiatkan total dua ribu kotak berisi berkas tersebut kepada Prof. Dr (HC). L. Jan Slikkerveer yang merupakan guru besar di Universitas Leiden, Belanda.

Ditemui di kantornya, Wina yang juga merupakan Ketua Jurusan Inpus itu menjelaskan bahwa kepercayaan itu merupakan buah dari kerja sama panjang antara Unpad dengan Leiden. Selama ini sudah ada memorandum of understanding antara kedua perguruan tinggi dan sudah tak terhitung bentuk kerja sama yang pernah dilakukan.

Padahal selain Unpad, ada beberapa negara yang sebenarnya mengajukan diri dalam proyek yang dinamakan Human Evolution and Development (HEAD) ini, di antaranya adalah Inggris dan Perancis. Selain itu, Universitas Leiden sendiri juga memiliki jurusan pendigitalan. Wina yang sedang melakukan riset untuk program S3-nya di Belanda menangkap peluang tersebut dan menawarkan diri untuk proyek tersebut.

“Kita pernah melakukan sistem yang hampir sama, yakni pendigitalan arsip untuk sebuah proyek di Kalimantan. Walau arsipnya tidak sehistoris itu, kami menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk mengajukan proposal,” jelas Wina pemimpin tim ahli dari Unpad itu.

Proposal itu pun dipelajari oleh Universitas Leiden. Sekitar April lalu, dilakukan presentasi rancangan awal yang sudah dipersiapkan dan kesepakatan pun terjadi. Direncanakan untuk berangkat hari ini dan menetap di Belanda hingga 11 Desember nanti, mereka akan membuat sistem digitalisasi arsip lalu melakukan pendigitalan arsipnya itu sendiri.

Kepercayaan
Menurut Wina, ada beberapa hal yang mungkin melandasi kepercayaan Leiden ke Unpad selain adanya MoU, yakni bukti nyata kontribusi Unpad pada berbagai kerja sama yang melibatkan negara maju dengan negara berkembang. Hubungan baik antara perguruan tinggi di Belanda dengan perguruan tinggi negeri di Bandung ini sendiri sudah berlangsung lebih dari dua puluh tahun.

“Kami sudah memahami pola kerja mereka dan mereka sudah memahami karakter kami,” tambah Wina.

Kepercayaan selalu disertai dengan tanggung jawab yang besar. Wina hanya berharap rekan-rekan dalam timnya itu bisa menunjukan profesionalitas dan integritas dalam bertugas. “Hujan ataupun angin tidak menjadi alasan untuk tidak pergi bekerja,” seloroh Wina menjelaskan kinerja yang dituntut di negeri kincir angin itu.

Adanya proyek semacam ini tidak bisa diukur dg melihat pundi-pundi uang yang bisa dihasilkan namun dari kemaslahatan yang ia bisa hasilkan. Dokumen berharga itu akan beralih dari kertas ke format digital. Ini berarti kemungkinan preservasi lebih baik, dibandingkan pada media yang mudah lapuk itu.

Berbekal akses dokumen itu melalui format perpustakaan digital, kelak para peneliti bisa terus mengembangkan keilmuan bidang ini. Sementara itu, manfaat ilmu jelas melebihi nilai yang dapat diukur oleh materi. Toh, harta yang paling mendasar bagi ilmuwan adalah sumber informasi.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: