Mahasiswa FH Unpad Raih Juara II Legislatif Drafting Tingkat Nasional

15 10 2010

[Unpad.ac.id, 15/10] Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Unpad kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini, tim delegasi Unpad berhasil meraih juara kedua dalam lomba Legislatif Drafting “Bergerak Hukum Indonesia” yang diadakan Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 3-9 Oktober 2010 lalu. Ini merupakan prestasi pertama Unpad dalam kompetisi Legal Drafting.

Erasmus, Sestri, dan Ulwan. Bersama dua rekan lainnya, Liely Noor Qadarwati dan Benny Agus Prima, mereka meraih juara II lomba Legislatif Drafting yang diadakan Universitas Indonesia belum lama ini (Foto: Tedi Yusup)

Mereka adalah Liely Noor Qadarwati (ketua delegasi), Ulwan Ma’luf, Erasmus A.T. Napitupulu, Sestri Oktaviani, dan Benny Agus Prima, serta Vicky Veronica Aruan sebagai official. Dalam kompetisi itu, mereka membuat Rancangan Undang-Undang (RUU) untuk merevisi Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

“Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dinilai sudah tidak layak dengan kondisi kekinian, jadi harus diubah. Dalam kompetisi tersebut, kami mencoba membuat rancangannya,” tutur Sestri saat ditemui di kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung, Kamis (15/05).

Inti dari RUU yang mereka buat adalah mengenai bagaimana pandangan mereka mengenai sistem pendidikan nasional kini. “Jadi intinya kita menekan peran negara, lalu apa saja yang dirasakan oleh mahasiswa tentang pendidikan saat ini, mengenai jaminan pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Itu semua kita tuangkan dalam RUU ini,” jelas Erasmus.

Lima orang delegasi Unpad ini ingin menekankan peran pemerintah sebagai aktor utama dalam sistem pendidikan nasional. “Mereka harus menjamin pendidikan yang murah dan berkualitas, dengan tidak mengesampingkan budaya-budaya Indonesia. Salah satu saran dari kami adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) harus dihapuskan,” jelas Ulwan.

Penyusunan RUU ini memakan waktu 1,5 bulan. Dengan waktu yang terbilang sempit itu, mereka melakukan pembagian tugas dalam hal penelitian, penyusunan naskah, hingga terjun langsung ke masyarakat untuk observasi. Dalam penyusunannya, mereka dibimbing oleh dosen Fakultas Hukum Unpad, Dr. Indra Perwira.

“Intinya dalam RUU ini, kita ingin menekankan bahwa pendidikan itu investasi. Ketika negara ingin berinvestasi, maka nanti negara juga yang akan menuai, hasilnya yaitu kemajuan. Kita juga berkaca dari negara lain, misalnya Cina  dan Jerman yang lebih  menginvestasikan pada pendidikan. Kesalahan utama kita selama ini adalah terlalu banyak melakukan investasi pada pembangunan daripada pendidikan,” ujar Erasmus.

Hal ini pun diamini oleh Sestri. “Negara maju itu lebih mengutamakan pendidiikannya, dan itu merupakan akar dari penyelesaian semua pemasalahan. Ketika pendidikan dalam suatu negara maju maka permasalahan-permasalahan dalam negara itu akan dapat diatasi.”

Erasmus pun memiliki saran tersendiri untuk para pembuat Undang-Undang di DPR. Menurutnya, dalam membuat suatu Undang-Undang itu tidak perlu sampai ke luar negeri, karena di Indonesia sendiri banyak yang dapat dikembangkan. Dengan observasi yang mereka lakukan untuk membuat RUU ini, mereka banyak menemukan banyak hal yang harus dikembangkan di Indonesia.

Walaupun sempat mengalami proses yang tidak mudah dan melelahkan, namun Erasmus, Sestri, dan Ulwan memiliki keinginan kuat untuk menjadi legal drafter suatu saat nanti. Berdasarkan pengalamannya, mereka sepakat bahwa penyusunan Undang-Undang bukanlah hal yang mudah.

“Cara buat Undang-Undang yang baik itu bergembiralah, sehingga ide-ide kreatif itu keluar semua. Kita kasih jempol untuk drafter-drafter yang sudah buat Undang-Undang,” tutur Erasmus.

Selama penyusunan RUU ini, mereka pun menemukan beberapa kesulitan. Selain sempitnya waktu penyusunan, kurangnya fasilitas juga menjadi hambatan. Mereka pun berharap, kedepannya Unpad dapat lebih  memfasilitasi para mahasiswa yang hendak mengikuti ajang-ajang seperti ini.

“Kita ingatkan saja, Unpad itu punya bibit-bibit yang luar biasa. Kita bukan yang terbaik, masih banyak yang lebih hebat. Tapi mungkin terkendala karena kurang difasilitasi, baik itu pembimbing, anggaran, sarana dan prasarana,” ungkap Erasmus.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: