Kesuksesan adalah Buah dari Pengetahuan dan Perjuangan

31 10 2010

[Unpad.ac.id, 31/10] Kiranya tepat bila hidup diumpamakan misteri yang penuh kejutan. Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tahu bagaimana jalan hidup yang mesti dilaluinya di masa yang akan datang. Bisa jadi seseorang akan ditempa dengan begitu banyak masalah atau diberi sejuta kemudahan, pada akhirnya cara orang tersebut menyikapi hal-hal yang menerpanya itulah yang menunjukkan keberhasilan mereka.

Para narasumber yang memberi motivasi kepada para mahasiswa untuk meraih kesuksesan hidup (Foto: Hera Khaerani) *

Sabtu (31/10) kemarin, BEM Kema Unpad menyelenggarakan acara Transformer di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Sastra Unpad, dengan menghadirkan sejumlah orang “sukses”. Semua pembicara yang diundang pernah menempuh studi di Universitas Padjadjaran, yakni Almira Aiyannisa, Tony Rahardjo, Prof. Bagir Manan, Prof. Nurhalim Shahib, dan Tatang Muttaqin.

Sebagaimana manusia lainnya, kelima pembicara tersebut telah menempuh jalan hidup yang berbeda dan pada akhirnya menemukan jalan kesuksesan yang berbeda pula. Almira mendapat juara kedua dalam Mawapres tingkat nasional, Tony menjadi wirausahawan muda nan sukses, Bagir Manan sempat menjadi ketua MA, Nurhalim seorang peneliti yang memiliki tiga hak paten, dan Tatang  mantan Ketua Senat Mahasiswa Unpad yang kini berkarir di Bappenas. Ini tentu saja hanyalah sedikit dari daftar panjang pencapaian kelima orang tersebut.

Di hadapan mereka adalah puluhan peserta acara talkshow tersebut. Besar kemungkinan mereka datang dengan membawa satu pertanyaan dalam benak, “Bagaimana cara untuk meraih kesuksesan yang sama?” Hampir dapat dipastikan bahwa para peserta ini bisa pulang dengan berbagai alternatif. Nurhalim misalnya, memilih untuk menjelaskan tentang pentingnya menggunakan perasaan pada saat belajar. “Perasaan akan menguatkan imajinasi untuk bekerja,” ungkapnya.

Ia mengambil contoh mahasiswa yang saat belajar dipenuhi dengan perasaan menolak dosen datang, tentu saja tidak akan mendukung kerja yang seharusnya mereka lakukan. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa perasaan bisa mencerdaskan orang. “Perasaan meningkatkan kemampuan melihat yang tidak terlihat dan berpikir di luar realita, untuk memperkuat logika dalam beretika,” katanya.

Sementara itu, Bagir Manan menekankan pentingnya banyak membaca buku. “Setiap kali membaca saya menemukan hal baru, inilah yang harus dijadikan tradisi,” ungkapnya.

Ia berpendapat bahwa sangatlah salah besar jika mahasiswa menunda membaca dengan berdalih akan melakukannya lebih banyak nanti setelah tamat kuliah. Padahal nyatanya saat waktunya tiba, mereka tidak juga banyak membaca. Tak seharusnya hal yang baik ditunda-tunda. Apa yang dilakukan dari sekarang bisa menjadi modal ilmu pengetahuan.

Sekalipun mengatakan betapa signifikannya bacaan dalam pencarian ilmu, Bagir menyadari banyak ilmu yang bisa didapat selain dari buku, yakni dengan keaktifan di berbagai kegiatan. Sayangnya ia melihat bahwa ada banyak mahasiswa yang memilih aktivitas karena mereka perlu pelarian dari kegagalan belajar. “Aktif itu harusnya dalam rangka menambah intelektualitas, bukan pelarian,” kata Bagir.

Ditanyai tentang orang-orang yang berpengaruh besar dalam hidupnya, Bagir bercerita tentang kedua orang tuanya. Ibunya adalah seorang perempuan desa yang hanya mampu membaca tulisan Arab dari Alquran. Meski begitu, perempuan itu dengan tulus dan kerasnya mendorong Bagir untuk maju.

Sementara itu, ayahnya adalah seorang Islam yang taat. Sang ibu sering berkata, “Kalian takkan mampu jadi bapakmu.” Sosok ayah mantan ketua MA ini adalah pria yang tidak pernah bangun dari tempat sujudnya sampai waktu dhuha tiba. Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Putera dari kedua orang sederhana ini tak pernah terpikir akan jadi profesor, Ketua MA, dan seterusnya. “Dulu cita-cita cukup jadi sekretaris kantor kecamatan,” kenangnya.

Maka dari itu ia terkadang berpikir bahwa perjalanannya ini terlalu jauh. Namun ia tidak pernah tahu mengapa semua bisa terjadi. Jika ada hal yang ia ketahui dengan pasti dalam hidup adalah bahwa dalam setiap pekerjaan kita harus selalu jadi pekerja keras karena hal itu membuat orang melihat kita sebagai orang yang dapat diandalkan. Bekerja keras menunjukkan ketulusan dalam hidup.

Berbeda dengan Bagir yang pilihan hidupnya banyak dipengaruhi oleh orang-orang menginspirasinya, Nurhalim merasa bahwa titik balik hidupnya adalah pengalamannya saat jatuh sakit. Kala itu ia merasa yakin untuk memilih belajar ilmu kedokteran di Unpad. Selanjutnya, kata hatilah yang menuntunnya untuk lebih banyak meneliti.

Lalu hal yang berbeda pula yang mendorong Tatang Muttaqin menuju kesuksesannya. Ia belajar tentang kesungguhan dari cerita-cerita yang disampaikan oleh ibunya selagi ia masih kanak-kanak. Pertemuan dengan senior di masa kuliah menambah pencerahan tentang kesungguhan itu, maka jadilah hidupnya didedikasikan untuk jihad dalam artian bersungguh-sungguh.

Para pembicara yang dalam hidupnya menuai sukses ini sadar betul akan kuasa takdir dalam hidup mereka. Namun mereka tak memilih untuk pasrah ataupun menunda menanam benih. Kesuksesan mereka kini adalah buah modal pengetahuan, perjuangan, dan mental yang dipupuk selagi muda.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: