Dr. Rer Nat., Suseno Amien, Penelitiannya Peroleh Paten di Jerman

27 12 2010

[Unpad.ac.id, 18/12] Bagi seorang dosen peneliti, penelitiannya diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah kesimpulan semata atas sebuah fenomena atau penemuan yang didapatkan. Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat lebih bagi mahasiswa, institusi, dan masyarakat pada umumnya. Begitu pula dengan apa yang ingin diraih oleh Dr. Rer Nat., Suseno Amien, Ir., dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Unpad.

Dr. Rer Nat., Suseno Amien, Ir (Foto: Marlia)

Sebetulnya, pada awalnya ia tidak terpikir untuk menjadi dosen. Keasyikan meneliti membuatnya ia diajak oleh pembimbingnya, yaitu Prof. Achmad Baihaki untuk menjadi pengajar, maka akhirnya dia memutuskan untuk menjadi seorang pengajar di Unpad. Menurutnya Prof. Achmad Baihaki bukan hanya gurunya, tapi sekaligus motivator dalam mengajar dan meneliti.

Bidang yang diminati pada mulanya adalah kultur jaringan pada tanaman, sebagai bagian dari bidang yang ditekuninya di Tekhnologi Benih Fakultas Pertanian Unpad. Namun rasa keingintahuan dan ketertarikan yang tinggi pada bidang genetika dan molekuler, membuatnya memilih bidang tersebut dan melanjutkan studi S-2 dan S-3 keluar negeri. Hingga akhirnya ia meraih gelar Doktor Biologi Molekuler tanaman Terapan di Universitas Hamburg Jerman.

Tak disangka, justru saat ia meneliti untuk disertasinya, Dr. Suseno berhasil menghasilkan sebuah penemuan menarik yang selanjutnya dipatenkan di Jerman bersama dengan pembimbingnya. Paten itu terdaftar di Jerman dengan nama Embryo sac specific genes pada tahun 2001. Tidak hanya di Jerman, ia juga mendaftarkan patennya tersebut di Amerika sejak tahun 2007 lalu.

“Saya tertarik untuk meneliti untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Untuk meneliti ini, kita harus happy, agar manfaatnya terasa bagi masyarakat,” ujar pria kelahiran Bandung, 5 Oktober 1965 silam.

Selama di Jerman inilah ia belajar banyak hal, tidak saja yang terkait dengan bidang ilmu yang ditekuninya saja. Ia juga belajar tentang universitasnya, system yang berlaku disana. “Karena disana itu sudah teratur dan established, maka proses pengurusan paten di sana jauh lebih mudah dan cepat. Dari paten ini, saya bisa mendapat royalti yang cukup lumayan,”ujarnya.

Penemuannya ini, tidak saja telah dipatenkan, tapi juga membawa Dr. Suseno diundang ke berbagai negara untuk mempresentasikan penelitiannya tersebut. “Penemuan saya di Jerman tersebut justru belum mendapat paten di Indonesia. Hal ini dikarenakan di Indonesia, belum ada teknologinya,” lanjutnya.

Karena memiliki pengalaman dalam mengurusi paten ini, ia akhirnya tertarik untuk membantu mengelola bidang hak kekayaan intelektual (HKI) di Unpad melalui UPT HKI. Sebagai Sekretaris I UPT HKI, tak heran bila ia sering terjun langsung menyosialisasikan paten dan bidang HKI lainnya.

Rupanya perolehan paten pertamanya tersebut menjadikan Dr. Suseno semakin termotivasi untuk mendapatkan penemuan baru yang kelak juga akan dipatenkan. Saat ini ia bersama beberapa orang mahasiswanya sedang membuat penelitian hasil pengembangan penemuannya di Jerman dulu. “Saya sengaja melibatkan mahasiswa dalam penelitian ini agar mereka juga dapat belajar meneliti, dan sebagai bentuk kaderisas peneliti,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa bila kelak penemuannya ini dapat memperoleh paten, mahasiswa tersebut juga akan disertakan. “Ini bagus untuk mereka karena sebagai nilai tambah bagi portofolio mereka,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa para dosen memang seharusnya lebih melibatkan mahasiswanya dalam penelitian, tidak hanya sekedar transfer ilmu dan teori di kelas saja.

Berbicara mengenai penelitian, selain telah menghasilkan produk dan paten, DIrektur Eksekutif I-MHERE Unpad ini juga dipercaya mendapatkan hibah penelitian untuk pengembangan bioteknologi di Unpad. Proyek seharga milyaran rupiah ini dimanfaatkannya untuk mengembangkan penelitian bioteknologi antara lain dengan membeli peralatan laboratorium pendukungnya.

Sebagai dosen,Dr. Suseno menyadari bahwa meneliti merupakan salah satu tugas utama dosen sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi. Untuk menciptakan universitas riset yang unggul, apalagi berkelas dunia, tentu diperlukan suatu strategi tersendiri untuk mencapainya. Melihat ‘peta’ dosen di Unpad saat ini, Suseno menjelaskan bahwa Unpad sebaiknya mulai memilih dan memilah dosen berdasarkan tugasnya dalam tridharma perguruan tinggi tersebut.

“Buat kontrak dengan dosen berdasarkan minatnya, apakah penelitian, pengajaran atau pengabdian masyarakat. Dengan kontrak tersebut, dosen diberi porsi waktu yang lebih besar sesuai dengan minatnya tersebut, tapi tentu harus proporsional antara ketiganya. Namun yang harus ditegaskan, tiap dosen harus ada output-nya, misalkan bagi dosen peneliti, harus ada produk atau patennya, untuk yang senang mengajar, buat buku ajar yang baik, dan sebagainya,” jelas Dr.Suseno.

Setidaknya bagi Dr. Suseno, output semacam inilah yang senantiasa ia ingin raih. Selain paten, ia juga telah menerbitkan berbagai tulisan hasil penelitiannya dalam berbagai jurnal ilmiah, di dalam maupun di luar negeri. Selain itu ia juga pernah menulis buku dan beberapa kali diundang menjadi pembicara dan pelatih pada berbagai seminar dan kegiatan pengabdian masyarakat. Dari sisi prestasi pun, Dr. Suseno pernah meraih Juara I Karya Ilmiah Terbaik Unpad (2007) dan Peneliti Terbaik (2008) dari Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unpad.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: