Serba-serbi UN 2011

27 12 2010

1.Perubahan Mendasar UN 2011

Berbagai polemik yang berkepanjangan mengenai Ujian Nasional di Indonesia tampak baik bagi demokrasi di negeri ini. Tapi satu hal yang jangan terlupa bahwa siswa peserta UN jangan sampai dibuat ragu atau takut tentang kepastian Ujian Nasional sebagai sarana untuk mengukur kemampuan mereka di bangku sekolahnya. Walaupun UN mengundang pro dan kontra tapi hendaknya tetap di jalur yang semestinya, karena bagaimana pun para siswa terutama siswa SMA / MA adalah para calon Agent of Change yang akan berperan untuk membawa perubahan-perubahan konstruktif bagi negeri ini. Oleh karena itu agar keraguan berkurang di kalangan dunia kependidikan, kami dari Tim Ujian Nasional mencoba menyampaikan beberapa hal yang dipandang penting terutama dalam hal perubahan-perubahan mendasar dalam kebijakan UN 2011 yang tentunya diharapkan dapat menjadi bekal bagi para siswa agar mereka cukup persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional 2011.

2.Rumus Kelulusan

Menurut BNSP bahwa penilaian kelulusan antara UN dan hasil belajar di sekolah tidak lagi saling memveto, namun bisa saling membantu. Untuk itu, penilaian UN digabung dengan nilai dari sekolah.

Kelulusan siswa dari sekolah dengan melihat nilai gabungan rencananya dipatok minimal 5,5. Nilai gabungan merupakan perpaduan nilai UN dan nilai sekolah untuk setiap mata pelajaran UN.

Rumus yang ditawarkan pemerintah untuk nilai gabungan = (0,6 x nilai UN) + (0,4 x nilai sekolah). Nilai sekolah dihitung dari nilai rata-rata ujian sekolah dan nilai rapor semester 3-5 untuk tiap mata pelajaran UN.

Mendiknas mengatakan bobot UN mesti lebih besar dari nilai sekolah untuk mengontrol hasil kelulusan. Pasalnya, dari data-data yang ada masih banyak sekolah yang me-mark up nilai siswa.

Dengan formula baru ini, rencananya akan dipatok nilai tiap mata pelajaran minimal 4,00. Integrasi nilai UN dan nilai sekolah ini diharapkan jadi pendorong untuk menganggap penting semua proses belajar sejak kelas 1 hingga kelas 3.

Adapun kriteria kelulusan ujian sekolah diserahkan kepada sekolah. Nilai sekolah merupakan nilai rata-rata dari ujian sekolah dan nilai rapor semester 3-5 setiap mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas Mansyur Ramli mengatakan penilaian kelulusan siswa tidak lagi hasil potret evaluasi sesaat. Penilaian dilakukan selama proses belajar siswa di sekolah.

3. Pengawasan UN 2011 Diperketat

BSNP mengatakan bahwa dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2010/2011, perguruan tinggi negeri (PTN) kembali mendapatkan kepercayaan untuk melakukan pengawasan proses penggandaan dan distribusi naskah UN SMA/MA, SMALB, SMK, SMP/Mts, dan SMPLB.

Pihak BSNP memang telah memberikan sebagian wewenangnya kepada PTN dalam pelaksanaan UN tahun ajaran 2010/2011. Diantaranya, pelaksanaan dan pengawasan UN SMA/MA dan SMK, pemindaian Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) SMA/MA dan SMK, dan pengawasan penggandaan dan distribusi naskah UN. Sedangkan untuk pemindaian LJUN SMP/MTs dilakukan oleh penyelenggaraan Ujian Nasional tingkat provinsi. Selain itu, tingkat SD hanya melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi masing-masing daerah.

Dijelaskan, proses penggandaan naskah soal UN ini akan dilakukan oleh penyelenggara tingkat provinsi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bahkan, lanjut dia, prosedur penggandaan naskah soal UN tersebut juga sudah diatur di dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN yang diteapkan oleh BSNP.

Selain itu, pengawasan ruang UN pada setiap sekolah/madrasah, BSNP juga menetapkan bahwa akan dilakukan oleh tim pengawas yang terdiri dari guru-guru yang mata pelajarannya tidak sedang diujikan. Selanjutnya, pengawasan ruang UN ini juga diatur dengan sistem acak dalam satu kabupaten/kota. Intinya, guru yang mata pelajarannya sedang diujikan tidak diperbolehkan di dalam lokasi sekokah/madrasah penyelenggara UN. Hal ini benar-benar harus diperhatikan oleh setiap sekolah/madrasah.

Sebelumnya, Anggota BSNP Prof Mungin Eddy Wibowo juga mengungkapkan bahwa sistem pengawasan ujian nasional (UN) pada tahun 2011 mendatang akan diubah. Rencananya dalam pengawasan, perguruan tinggi hanya akan turut memantau pada UN tingkat SMA/SMK/MA.

Menurutnya, dalam pelaksanaan UN, tim pengawas independen dari perguruan tinggi tetap dilibatkan, tapi itu hanya di tingkat SMA/SMK/MA saja. Sedangkan untuk SMP/MTs, dan tingkat SD hanya melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi masing-masing daerah. “Jadi perguruan tinggi tidak ikut terlibat dalam pemantauan UN tingkat SMP/MTs. Pasalnya, kelulusan SMP/MTs nanti akan digunakan untuk tingkat SMA/SMK,” jelasnya.

4. UN Bukan Satu-satunya Syarat Kelulusan

Usaha pemerintah dalam menata UN dengan melibatkan Ujian Sekolah untuk meluluskan siswa dinilai sangat positif. Karena langkah penentuan kelulusan secara komprehensif seperti ini, sudah seharusnya dilakukan. Sebagaimana undang-undang juga mengamanatkan bahwa, kelulusan siswa memang tidak hanya ditentukan oleh UN. Ini langkah positif pemerintah yang harus kita dukung. Sejak dulu, banyak sekolah protes keras karena menurut undang-undang, tidak seharusnya kelulusan hanya ditentukan Ujian Nasional.

Ini rancangan cukup komprehensif dan cukup mengakomodir kepentingan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan, kebijakan yang ditempuh pada UN sebelumnya memang tergolong aneh karena sekolah sama sekali tidak dilibatkan dalam menentukan kelulusan siswa. Padahal, sekolah jauh lebih tahu kapasitas siswa dan mereka pula pihak yang menangani proses belajar-mengajar yang dilakukan siswa setiap hari.

5. UN Satu Syarat Masuk PTN

Para rektor telah menerima Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu komponen yang akan dipertimbangkan sebagai syarat masuk PTN.

Secara umum rektor-rektor menerima hasil UN akan dipertimbangkan menjadi syarat masuk PTN. Adapun bobotnya masih digodok. Demikian dijelaskan Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal, seusai meresmikan Pameran Foto Peduli Pendidikan di Kantor Kemendiknas, Jakarta, Sabtu (18/12).

Sementara Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bersama perwakilan sekolah dan Mendiknas, pada saat berbeda membahas formula dan bobot penilaian untuk UN. Mendiknas M Nuh meminta para peserta sosialisasi dapat memberi masukan formula UN .Mantan Rektor ITS (Institut Teknologi Surabaya) ini berharap hasil formula UN yang ditetapkan tahun ini menjadi standar dan tidak berubah lagi.

Ia menyatakan terlebih penting dan strategis adalah tindak lanjut dari ujian nasional. “Arah ujian nasional sekarang adalah peningkatan mutu pendidikan,” tegasnya.

Ia melanjutkan salah satu prinsip UN adalah komprehensif. Artinya, UN harus mencerminkan kesatuan proses belajar mengajar yang dijalani siswa. “Sebagai sebuah sistem evaluasi, UN harus bisa meliputi setidaknya tiga kompetensi dasar yakni kognitif, afektif, psikomotorik,”cetusnya.

Prinsip berikutnya kontinuitas sejalan dengan integrasi jenjang pendidikan, yaitu menggunakan hasil evaluasi tingkat sebelumnya sebagai dasar seorang siswa memasuki jenjang pendidikan lebih tinggi. Jadi, hasil kelulusan siswa SD dipakai untuk masuk SMP, dan seterusnya. “Kita upayakan agar hasil kelulusan SMA bisa digunakan untuk mmelanjutkan ke perguruan tinggi,” tutur Nuh.

Ketua BSNP Djemari Mardapi menambahkan kelulusan siswa dari satuan pendidikan harus memperhitungkan hasil ujian nasional, hasil ujian sekolah, dan penilaian guru di sekolah. “Ketiga komponen ini dirangkum dalam nilai gabungan yang memperhitungkan hasil ujian nasional dan ujian sekolah dengan rasio bobot tertentu,” kata Mardapi.

(Disusun by Drs. Asep Rusmana, S.H. : Copyright@2010 Ujian Nasional)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: