Angga Kusumanegara, “Prestasi Itu Seperti Candu”

3 01 2011

[Unpad, 2/01/2011] Manusia punya kecenderungan yang besar untuk terus berubah. Hal itu kita lakukan baik demi keberlangsungan hidup, kepuasan, ataupun hal-hal di luar alam sadar kita. Berbagai pengalaman manis dan pahit yang dialami, hal-hal yang mampu kita inderai, atau sekedar pertemuan dengan orang yang tepat di saat yang tepat, bisa saja merubah diri kita.

Angga Kusumanegara dengan latar sejumlah piagam penghargaan yang pernah diraihnya *

Setidaknya, alasan yang terakhir tadilah yang menjadi salah satu pendorong seorang Angga Kusumanegara untuk menemui titik balik dalam hidupnya. Angga yang tercatat sebagai mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi Unpad angkatan 2007 itu baru-baru ini memenangkan Unpad Awards 2010 untuk kategori Kewirausahaan. Kepada reporter website Unpad, Angga menceritakan lika-liku hidupnya hingga menjadi seperti saat ini.

“Ketika pertama kali saya menjadi mahasiwa Unpad, saya adalah mahasiswa biasa saja yang memiliki aktivitas bermain dengan teman-teman seangkatan. Teman saya menyebutnya “kunang-kunang” alias kuliah nangkring-kuliah nangkring,” Angga berkisah. Untuk mengurangi kebiasaannya menghabiskan waktu dengan bermain, pria kelahiran Kotabaru pada November 1989 silam itu mengikuti lima organisasi kemahasiswaan sekaligus.

Namun kemudian Oktober tahun lalu ia melihat informasi tentang ajang Unpad Awards. Seorang seniornya sedang mengambil formulir untuk turut dalam ajang tersebut banyak bercerita tentang prestasinya. Angga yang saat itu memiliki belum memiliki satu pun prestasi yang patut dibanggakan, berkata dalam hati, “Tahun depan saya harus ikut Unpad Awards.”

Senior yang membuatnya terpancing untuk berprestasi itu kemudian memperkenalkan Angga pada seorang senior lain yang memiliki prestasi luar biasa baik di tingkat nasional maupun internasional. Sejak saat itu, sambil belajar mencapai semua yang ia inginkan, Angga menemukan dirinya menuai prestasi demi prestasi. Lomba pertama yang ia ikuti adalah lomba business plan di tingkat Jurusan Manajemen. “Tanpa diduga-duga, dengan persaingan ketat ternyata saya bisa memenangkan kompetisi tersebut,” ungkapnya.

Ada perasaan luar biasa yang tidak bisa diungkapkan ketika ia mendapatkan gelar juara yang pertama baginya itu. Perlu dicatat, sejak kecil hingga Sekolah Menengah Atas, Angga belum pernah menjuarai kompetisi. Bahkan perlombaan yang terakhir ia ikuti sebelum kuliah adalah saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ketika itu ia mengikuti lomba cerdas cermat matematika dan sama sekali tidak menang.

Masa-masa SMP dan SMA yang dilaluinya juga tak banyak diwarnai prestasi. “Saat SMA itu saya bergaulnya dengan klub motor, sering bolos, kadang bermasalah dengan guru, ada nilai 4 untuk Fisika di raport kelas satu, bahkan nilai Bahasa Indonesia saat UAN hanya 5,” ungkapnya menggambarkan masa lalunya itu. Perubahannya itu cukup mengejutkan teman-temannya juga.

Cukup drastis memang, tapi apa boleh buat karena ia sudah “kecanduan.” Ada banyak hal yang ia dapatkan dari mengikuti kompetisi, seperti ilmu, penghargaan, uang, hiburan, jaringan, dsb. Maka selanjutnya, Angga lebih bersemangat untuk mengikuti kompetisi di berbagai bidang, mulai dari debat, karya tulis, business plan, trading saham, dan sebagainya, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Angga tidak pernah bisa melupakan kemenangannya yang pertama di perlombaan tingkat nasional. Saat itu ia membawa kreasi pizza singkongnya ke Economic Championship National Business Plan Competition 2009 di Universitas Dipenogoro. “Saat itu di rumah sedang ada pengajian keluarga jadi saya hanya berani mengabari kemenangan saya ke ibu lewat SMS,” kisahnya.

Ibunya yang larut dalam haru pun menangis dalam pengajian dan membuat orang-orang yang hadir saat itu bertanya-tanya. “Angga, juara nasional,” ucap Angga sambil terisak menirukan yang dilakukan ibunya kala itu. Ia bersyukur bisa membahagiakan keluarganya sedemikian rupa.

Jika harus diingat-ingat kenapa ia sampai jadi terobsesi dengan kejuaraan, Angga merasa hal itu tidak terlepas dari didikan orang tuanya di rumah. Ibunya yang semasa sekolah dulu selalu menjadi siswa teladan senantiasa dijadikan parameter untuknya dalam kehidupan akademik. “Jujur, dari SD sampai SMA dulu saya merasa minder kalau didorong begitu. Tapi kini saya bisa membuktikan bahwa saya juga bisa jadi mahasiswa teladan,” sebutnya. Angga termasuk salah seorang yang dianugerahi Satya Karya Adisiswa Padjadjaran tahun ini. Semua prestasi yang diraihnya itu ia akui sangat menggembirakan meski tergolong telat karena baru dimulai saat kuliah.

Apakah prestasinya berhenti pada perlombaan saja? Nyatanya tidak, saat Angga yang memiliki IPK 3,56 itu tercatat sebagai asisten dosen Statistika dan Manajemen Strategis di FE Unpad. Ia juga sudah mulai merintis usaha sendiri, di antaranya adalah Angkringan Bandung dan Waroong Ayam Kampoes. Kedua usaha kulinernya itu ia dirikan sejak 2010 dan telah menjadi laboratorium tempatnya menguji berbagai teori yang didapat di kampus.

Sementara banyak orang sibuk mengeluhkan sulitnya mendapatkan dukungan modal dari berbagai pihak, Angga lebih memilih untuk memanfaatkan hadiah dari berbagai perlombaan untuk modal usahanya. Meski begitu, ini tak berarti ia sepenuhnya menyalahkan orang-orang yang banyak berbicara tentang kendala modal itu. “Ada kalanya memang kita perlu sokongan modal,” sebutnya.

Tapi kalau harus menyebutkan hal yang menurutnya paling diperlukan seorang mahasiswa dalam berwirausaha, itu adalah pembinaan. “Kita tidak butuh uang saja, kita butuh perhatian dan pendampingan. Yang namanya bisnis itu permasalahannya banyak banget dan pasti akan membantu seandainya dosen mau membimbing mahasiswa yang sedang menjalankan wirausaha untuk turut membantu evaluasi persoalan yang muncul,” jelasnya.

Pendapatnya ini didasari pengalamannya sendiri. Dua usaha yang telah dirintisnya bersama sejumlah teman terpaksa berhenti karena dalam perjalanannya, mereka bingung dalam mengurusi berbagai tantangan yang ada.

Melihat potensi wirausaha di kalangan mahasiswa dan mulai besarnya ketertarikan pemerintah untuk mengembangkan aspek ini, Angga menilai harusnya Unpad juga mulai berbenah untuk lebih menunjukkan perhatiannya pada pengembangan wirausaha mahasiswa. Ia berkata, “Informasi terkait program wirausaha dan perhatian Unpad untuk kewirausahaan masih kurang.”

Angga sendiri baru mengetahui adanya PKM itu sejak tahun ketiga kuliah di Unpad. “Sejak awal informasi itu bias dan kadang tidak sampai ke fakultas,” ungkapnya. Lebih lanjut ia mengatakan, kita memerlukan organisasi yang benar-benar terorganisir dan transparan untuk mengelola kelompok wirausaha, bukan hanya untuk mengejar prestasi di kompetisi. Selain membantu dalam pengajuan pendanaan, organisasi itu juga harus melakukan pendampingan bisnis bagi para anggotanya.

Ketiadaan wadah resmi yang ia sebutkan itu memang menjadi kendala tersendiri, tapi bukan berarti Angga mau berdiam diri hingga situasinya berubah menjadi lebih kondusif. Baru-baru ini ia mengikuti lomba di Universitas Gajah Mada dan berhasil menang. Lagi-lagi, ia berniat menggunakan hadiahnya sebagai modal usaha baru.

“Saya melihat peluang usaha di Jatinangor cukup bagus dengan mahasiswa tingkat pertama ITB akan kuliah di sana, dan lain sebagainya,” sebutnya. Usaha barunya akan dibangun bersama sejumlah kawannya yang lain dan akan dimulai Januari mendatang. Selain itu, ada pula niatannya untuk mengembangkan bisnis online.

Angga memang memiliki minat yang besar pada wirausaha. Kecenderungan itu bahkan sudah muncul sejak ia masih kecil. Dimulai dari berjualan gambar mainan hingga menjual kelereng yang ia menangkan dari beradu. Maka ilmu yang ia dapat dari kampus pada dasarnya telah membuatnya berhasil kembali menemukan dirinya sendiri.

Saat ini ada obsesi masa kecilnya yang masih hidup dan berusaha ia dapatkan. Itu adalah untuk mendapatkan piala emas. Sejak SD ia sangat menginginkan piala emas namun kini saat ia mulai gemar mengikuti kompetisi, jenis piala emas justru sudah mulai ditinggalkan. Tak ada satu pun piala emas yang ia peroleh sekalipun beberapa kali memenangkan lomba maka jadilah ia masih mencari piala-piala emas. ”Saya sampai bingung, apa beli saja atau gimana,” sebutnya.

Selanjutnya, ada dua cita-cita yang ingin ia capai. Angga mengatakan bahwa ia ingin jadi enterpreneur sekelas Sandiago Uno yang pada 2008 dinobatkan sebagai ”Entrepreneur of The Year” dari Enterprise Asia untuk predikat pengusaha terbaik. Lalu ia ingin sukses sebagai seorang profesional di bidang yang ia ambil dan kelak diklaim oleh Unpad sebagai alumnus Unpad. “Saya ingin Unpad yang mengklaim saya,” katanya sambil tertawa kecil.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: