Wildan Ghiffary Jadi Salah Satu Delegasi Indonesia di PPWPK ASEAN 2011

6 07 2011

[Unpad.ac.id, 5/07/2011] Seorang pemimpin harus siap melayani, melayani, dan melayani.  Melayani merupakan hakekat dari seorang pemimpin, dia pun seharusnya tetap hidup sederhana dengan tidak bersikap arogan.  Begitu menurut mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad, Wildan Ghiffary, dalam tulisannya tentang bagaimana sikap yang tercermin dari seorang Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad. Tulisan itu akhirnya membawa Wildan terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti Program Pertukaran Wartawan / Pemimpin Kampus (PPWPK) ASEAN Tahun 2011 Fasa ke-4.

Pelaksanaan program ASEAN ini mengikutsertakan Brunei Darussalam dan Indonesia melalui Kementerian Media , Komunikasi dan Informasi masing-masing sebagai panitia pelaksana. Kegiatan diadakan didua negara, yaitu 12-18 Juni  (Brunei Darussalam) dan 19-24 Juni 2011 (Indonesia). Diikuti oleh 16 orang perwakilan dari 8 negara yang ada di ASEAN. Myanmar dan Singapura tidak mengirimkan perwakilannya dalam ajang ini.

Paper saya bercerita tentang bagaimana seorang pemimpin yang adil. Saya hanya punya waktu seminggu menyusunnya lalu saya kirimkan ke panitia. Setelah melalui seleksi yang ketat, Alhamdulillah saya terpilih, “ ujarnya Wildan yang sekarang belajar di program studi Ilmu Kelautan FPIK Unpad angkatan 2009.

Selama di sana, Wildan bersama teman-temannya diperkenalkan banyak hal tentang Brunei Darussalam. “Selama di sana kita banyak diperkenalkan tentang Brunei. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sana, kebudayaan dan kesenian,” ungkapnya bersemangat saat ditemui di Kantor Unpad News and Information Center (UNIC), Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Senin (4/07).

Tidak hanya itu, Wildan bersama delegasi yang lain juga mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang menulis paper dan kepemimpinan. Setelah itu, mereka diminta untuk membuat sebuah majalah sebagai goal dari program PPWPK ASEAN 2011. Majalah tersebut nantinya akan berisikan tulisan-tulisan dari para delegasi yang kemudian akan diterbitkan secara luas di delapan negara para delegasi melalui Kementerian Media , Komunikasi dan Informasi negara masing-masing.

“Hasil dari project program ini adalah kita diminta untuk membuat sebuah majalah yang diterbitkan di negara-negara ASEAN. Isi majalah itu adalah tulisan-tulisan dan gambar-gambar dari kita (para delegasi). Nama majalahnya itu adalah ASEAN Inside,”  tambahnya

Wildan mengakui bahwa telah yang ilmu yang didapatnya selama ikut dalam program PPWPK ASEAN 2011 itu. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah ketika mengikuti pelatihan oleh seorang jurnalis senior dari kantor berita BBC Inggris. Dari apa yang didapatkannya itu, Wildan menilai ada perbedaan yang signifikan antara media di Brunei dan di Indonesia. Media di Brunei Darussalam cenderung kurang bisa demokratis karena dibatasi dan dikontrol oleh negara, bahkan untuk media swasta sekali pun. Jarang sekali ada berita tentang hal-hal negatif.

“Hanya akan ada tiga berita utama di Brunei, yaitu berita gembira, berita yang menyenangkan raja dan berita tentang proyek yang akan dibangun. Tetapi ketika ditanya, masyarakat di sana merasa bebas walaupun terlihat dibatasi. Hingga akhirnya saya berpendapat bahwa kesejahteraan itu bukan dari pemimpinnya tapi lebih kepada public service yang baik oleh negara,” pungkasnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: